TERKINI

Modal Itikad Tidak Baik, Hermanto Oerip Laporkan Korban Yang Uangnya Dikemplang Rp75 M

Feb 27 2026265 Dilihat

Surabaya | jurnalpagi.id

Unit II Subdit II Ditreskrimum Polda melakukan gelar perkara kasus dugaan penipuan dan penggelapan yang dilaporkan Hermanto Oerip terhadap dr.Soewondo Basuki.

Perlu diketahui, Hermanto Oerip adalah terdakwa kasus penggelapan Rp 75 miliar yang dilaporkan Soewondo Basuki. Saat ini perkara tersebut disidangkan di PN Surabaya yang dipimpin hakim Nur Kholis.

Laporan yang dilakukan Hermanto Oerip terhadap Soewando Basuki ini dinilai sebagai sesuatu yang beretikad buruk.

Hal itu disampaikan Kuasa hukum dr. Soewondo Basuki, Prof. Dr. KPHA. Tjandra Sridjaja Pradjonggo, SH, MH, Ketum ILC usai gelar di Polda Jatim.

Prof Tjandra mengatakan, adanya etikad buruk pelapor tersebut merujuk pada hasil gelar perkara di Polda Jawa Timur yang menyebut perkara tersebut sebelumnya telah diperiksa oleh Bareskrim Polri maupun Pengadilan dengan Putusan inkracht.

Menurut Prof Tjandra, Bareskrim telah mengeluarkan surat resmi yang menyatakan transaksi jual beli yang dilakukan Soewondo atas kompensasi utang dari Hermanto Oriep merupakan perbuatan yang sah dan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bahkan, aset yang sempat diblokir Bareskrim karena diduga terkait investasi Nikel bodong Venansius Niek dan Hermanto Oerip yang merugikan banyak orang.

“Namun faktanya, perkara ini sudah diputus hingga Kasasi dan Peninjauan Kembali. Dalam Pertimbangan Hukum putusan, majelis hakim Agung justru menyatakan pihak yang beritikad buruk adalah Hermanto Oerip dan Menghukum pidana penjara Venansius Niek 1,5 tahun penjara,” kata Prof Tjandra.

Atas dasar itu, jaksa memberikan petunjuk kepada penyidik untuk menetapkan Hermanto Oriep sebagai tersangka.
“Prosesnya memang lama dan berbelit, tetapi saat ini perkaranya sudah diperiksa di Pengadilan Negeri Surabaya,” ujar pengacara senior ini.

Terkait kuitansi senilai Rp15 miliar yang dipersoalkan dalam perkara rumah, Tjandra menegaskan bahwa kuitansi tersebut bukan bukti jual beli atau kontrak oleh Soewondo. “Kuitansi itu tulisan tangan Hermanto Oriep sendiri yang kemudian dilanjutkan dengan pembuatan Akta dihadapan Maria Tjandra Notaris/PPAT,” katanya.

Baca juga :  Peringati Harkitnas, PMII Surabaya Suarakan Mosi Tidak Percaya KPK

Ia menjelaskan, transaksi tersebut merupakan bentuk kompensasi pembayaran utang sebagaimana diatur dalam Pasal 1425 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dalam ketentuan itu, pertemuan utang piutang antara dua pihak yang sama menyebabkan saling meniadakan.

“Dengan akta otentik, isinya dianggap benar dan menjadi bukti sempurna. Jika ada pihak yang menyangkal, maka pihak itulah yang wajib membuktikan,” tegasnya.

Prof Tjandra juga mengungkapkan bahwa perusahaan yang digunakan Hermanto Oriep hanya untuk tameng penipuan yang hanya sekitar dua bulan. Setelah itu terungkap adanya pembuatan bill of lending palsu, faktur penjualan palsu, serta penarikan dana perusahaan oleh Hermanto Oriep bersama anaknya Vensensius, Istrinya dan drivernya menggunakan 153 lembar cek BCA kerugian dr. Suwondo diperkirakan Rp.146 M yang dalam persidangan disebutkan Rp.75 M temuan Penyidik.

“Laporan yang dibuat Hermanto ini kami nilai hanya untuk menutupi kesalahannya sendiri dan memperpanjang perkara pidana yang sedang diperiksa di PN Surabaya,” kata Prof Tjandra.

Ia menambahkan, satu perkara tidak boleh diperiksa dua kali karena bertentangan dengan norma hukum. “Masalah ini sudah diperiksa di Bareskrim dan dinyatakan sah. Namun kemudian dimunculkan lagi tudingan pemalsuan surat, padahal sebelumnya sudah ada akta autentik,” ujarnya.

Dalam putusan Mahkamah Agung yang telah berkekuatan hukum tetap, lanjut Tjandra, ditegaskan bahwa perbuatan melawan hukum dengan Pertambangan Nikel Bodong diduga dilakukan oleh Hermanto Oriep (otak intelektualnya) termasuk pengambilan uang tanpa persetujuan dan pembuatan surat-surat palsu.

“Itu tegas disebutkan dalam putusan inkracht pertimbangan majelis hakim agung kasasi dan Peninjauan Kembali. Semoga Vensensius Putra Hermanto sebagai generasi muda Sadar dan Bertobat,” ujarnya.

Share to

Related News

Jual Kosmetik Asal China Tanpa BPOM, Ter...

by Jul 22 2026

Surabaya | jurnalpagi.id Perkara jualan kosmetik secara online yang tak berizin BPOM menetapkan, Jef...

Eksepsi Agustin Widyawati dan Ranto Hens...

by Jul 20 2026

Surabaya | jurnalpagi.id Perkara tindak pidana penipuan, yang melibatkan, Agustin Widyawati dan Rant...

Curi Tas Karyawan Shopee Express, Moh Sy...

by Jul 15 2026

Surabaya | jurnalpagi.idJaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Tanjung Perak, Renanda Kusumas Tu...

Korban Nilai Pengubahan Status Penahanan...

by Jul 11 2026

Surabaya | jurnalpagi.id Keputusan Kejaksaan Negeri Tulungagung mengalihkan status penahanan pasanga...

Raup Keuntungan Jutaan Rupiah Per Ekor, ...

by Jul 03 2026

Surabaya | jurnalpagi.id Praktik perdagangan ilegal satwa dilindungi jenis biawak Komodo yang diduga...

Mangkir Dua Kali Saat Dipanggil Penyidik...

by Jul 01 2026

Surabaya | jurnalpagi.id Polrestabes Surabaya memastikan penanganan kasus dugaan Tindak Pidana Pencu...

No comments yet.

Sorry, the comment form is disabled for this page/article.
back to top