Pasuruan Jurnalpagi.id – Sebanyak 24 tim dari berbagai desa saling adu strategi dan gengsi demi memperebutkan trofi kebanggaan yang telah hadir secara konsisten selama 33 tahun terakhir pada turnamen Bulat Cup 2025
Turnamen tahunan ini telah menjelma menjadi barometer gala desa.
Tempat lahirnya pemain-pemain lokal berkualitas, serta medan kompetisi yang sarat gengsi antar kampung.
Tim Fortuna Reborn kembali menorehkan namanya di papan juara setelah berhasil mempertahankan gelar sebagai juara 1 berturut-turut selama dua tahun.
Heru Veri Nur Cahya, penasihat turnamen Bulat Cup menyebut Bulat Cup sebagai bentuk nyata kepedulian masyarakat terhadap sepak bola lokal, sekaligus wadah regenerasi atlet desa yang potensial.
“Turnamen ini bebas pemain bon. Tapi alhamdulillah, anak-anak muda asli Pasuruan justru bisa tetap berjaya. Ini membuktikan bahwa bakat lokal tak kalah bersinar, jika diberi ruang dan kepercayaan,” ujarnya.
Lebih dari sekadar pertandingan, Heru, sapaan akrabnya menyebut Bulat Cup adalah panggung unjuk gigi bagi para pemain muda.
“Ini bukan sekadar lomba bola. Ini ajang mencari bibit-bibit unggul. Di sini anak-anak muda kita bisa menunjukkan skill-nya, membangun kepercayaan diri, dan belajar bersaing secara sehat. Lapangan ini bisa jadi titik awal mimpi besar mereka,” imbuh Heru.
Dengan keberhasilan penyelenggaraan tahun ini, Bulat Cup 2025 tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga lokomotif pembinaan, etalase talenta muda, serta penggerak ekonomi mikro di sekitar pelaksanaan turnamen.
Menurut dia, kemenangan tim Fortuna Reborn atas Sapu Jagat FC menegaskan bahwa konsistensi dan komitmen akan selalu menemukan jalannya menuju puncak.
Turnamen ini juga mendapat apresiasi dari Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan Andri Wahyudi yang menyebut Bulat Cup sebagai bukti bahwa industri olahraga di Pasuruan sudah hidup dan tumbuh secara konsisten.
“Sejak 2016 saya mengikuti turnamen ini. Dan saya lihat manajemen Bulat Cup semakin rapi. Penataan panitia tertib, pelaksanaan tanpa kericuhan. Ini menunjukkan profesionalisme yang patut jadi contoh daerah lain,” ucap Andri.
Ia juga menambahkan, kunci keberhasilan ini juga didukung oleh fasilitas lapangan yang sudah memenuhi standar nasional, serta partisipasi publik yang terus meningkat setiap tahunnya.
Meski demikian, ia berharap ada dukungan lebih besar dari pemerintah daerah, terutama melalui Dispora, untuk membantu penguatan turnamen semacam ini sebagai industri olahraga rakyat.
“Ajang seperti ini bukan cuma soal menang atau kalah, tapi tentang proses, pembinaan, dan regenerasi atlet lokal. Bulat Cup membuktikan bahwa gairah sepak bola di desa masih menyala dan penuh harapan,” pungkasnya.(Wan/Adi)
No comments yet.