Oleh Beatricx Eliesabeth S, Mahasiswa KKN R10 Desa Mojokembang Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Mojokerto | jurnalpagi.id
Di Desa Mojokembang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, ubi (ketela) menjadi salah satu komoditas pertanian lokal yang melimpah. Selama ini, UMKM desa hanya menjual ketela dalam bentuk mentah atau olahan sederhana, sehingga nilai jualnya rendah dan pendapatan pelaku usaha sering tidak stabil.
Untuk mengubah kondisi ini, mahasiswa Pengabdian Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Kelompok R10 melaksanakan program Pengembangan Usaha Olahan Ubi Berbasis Toko Kelontong. Program ini bertujuan meningkatkan nilai jual produk lokal sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Kegiatan ini melibatkan ibu rumah tangga berbasis toko kelontong sebagai pelaku UMKM pengolah ketela dan Bu Suparni, pemilik toko kelontong setempat, sebagai mitra utama pemasaran. Mahasiswa pengabdian bertugas mendampingi mulai dari pelatihan, praktik produksi, hingga strategi pemasaran produk olahan ubi. “Kami ingin ketela yang biasanya dijual mentah bisa menjadi produk olahan yang menarik, higienis, dan bernilai jual tinggi,” jelas penulis.
Pelaksanaan program dilakukan melalui beberapa tahapan yang dirancang agar mudah diikuti dan berkelanjutan. Tahap pertama adalah pelatihan diversifikasi produk ketela, di mana ibu-ibu belajar mengolah ketela menjadi berbagai produk, seperti bola ubi, lumpia ubi, stik ubi, dan keripik ubi aneka rasa. Tujuannya adalah menambah variasi produk sehingga UMKM tidak lagi bergantung pada satu jenis olahan saja.
Tahap kedua adalah pendampingan proses produksi, agar setiap produk memiliki kualitas dan rasa yang konsisten. Mahasiswa pengabdian memberikan bimbingan langsung, mulai dari pemilihan bahan baku yang tepat hingga teknik pengolahan yang higienis dan efisien.
Selanjutnya, tahap ketiga adalah pengemasan dan pelabelan produk. Ibu-ibu diajarkan cara membungkus produk agar lebih menarik dan layak jual, sehingga mampu bersaing di pasar lokal.
Tahap terakhir adalah pemasaran melalui toko kelontong Bu Suparni, yang menjadi etalase utama bagi produk olahan ketela. Dengan dukungan mahasiswa pengabdian, produk UMKM bisa langsung dijual kepada konsumen sekitar, sekaligus memperluas jangkauan pasar melalui promosi sederhana di media sosial. Strategi ini diharapkan membantu pelaku UMKM untuk membangun usaha yang berkelanjutan.
Program ini terbukti memberikan dampak positif bagi masyarakat. Ibu-ibu UMKM kini memiliki keterampilan baru, bisa mengelola produksi dan pengemasan, serta memahami strategi pemasaran yang efektif. “Sekarang saya bisa menjual bola ubi, lumpi ubi dan stuck ubi langsung di toko. Pembeli lebih tertarik karena kemasannya rapi dan rasanya enak,” kata Bu Suparni, salah satu peserta pelatihan. Selain itu, toko kelontong menjadi pusat distribusi produk lokal, memperkuat ekosistem usaha desa dan membantu masyarakat memperoleh akses yang lebih mudah terhadap olahan ubi.
Dengan inovasi ini, ketela lokal Desa Mojokembang tidak lagi sekadar bahan mentah, melainkan menjadi produk olahan bernilai tambah, menarik, dan higienis. Program pengabdian ini membuktikan bahwa pendampingan aktif dan pemberdayaan UMKM berbasis potensi lokal dapat meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi desa secara berkelanjutan.
No comments yet.