Daniel Yulius Caesar • Jan 13 2026 • 73 Dilihat

Oleh: Putri Amalia Soraya, Mahasiswa KKN R12 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Mojokerto | jurnalpagi.id
Kemasan sering dianggap hal kecil dalam usaha makanan ringan. Namun siapa sangka, dari kemasan sederhana inilah citra produk, daya tarik konsumen, hingga kualitas camilan dapat ditentukan. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menghadirkan program pelatihan Standing Pouch Ziplock Eco Green sebagai solusi bagi pelaku UMKM di Desa Sumberkembar.
Selama ini, sebagian besar pelaku UMKM masih menggunakan plastik tipis atau kertas yang dijepit klip sebagai kemasan produk. Selain kurang menarik, kemasan tersebut dinilai kurang praktis, mudah rusak, dan tidak mampu menjaga kerenyahan camilan dalam waktu lama. Bahkan, minyak dari produk sering menembus kertas sehingga mengurangi kualitas dan nilai jual.
Melalui program ini, tim KKN memberikan edukasi mengenai pentingnya kemasan sebagai pelindung produk, media informasi, sekaligus alat pemasaran. Standing pouch ziplock dipilih karena dinilai lebih rapi, dapat ditutup kembali, mudah dibawa, serta lebih ramah lingkungan dibanding kemasan konvensional.
“Kami ingin membantu UMKM memahami bahwa kemasan bukan hanya pembungkus, tapi bagian dari strategi usaha. Dengan standing pouch, produk terlihat lebih profesional dan siap bersaing di pasar yang lebih luas,” ujar salah satu anggota tim KKN Sub Kelompok 3.
Program yang didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. (Cand) Fiky Two Nando, S.T.,M.T. ini dilaksanakan dalam beberapa tahap. Dimulai dari observasi dan wawancara dengan pemilik UMKM setempat, kemudian dilanjutkan sosialisasi mengenai bahaya limbah jelantah, pelatihan pembuatan sabun, hingga pendampingan dan evaluasi produk.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, mulai dari observasi kondisi usaha warga, identifikasi permasalahan kemasan, penyampaian materi tentang jenis dan fungsi kemasan modern, hingga simulasi langsung penggunaan standing pouch ziplock untuk berbagai produk camilan seperti kacang pedas, kacang asin, pastel, dan kacang sembunyi.
Selain praktik pengemasan, peserta juga diperkenalkan pada perhitungan sederhana biaya kemasan agar pelaku UMKM dapat menyesuaikan harga jual produknya secara realistis. Tim KKN menekankan bahwa meskipun standing pouch memiliki biaya lebih tinggi dibanding plastik biasa, kemasan ini cocok digunakan untuk produk display dan segmen pasar tertentu yang mengutamakan tampilan dan kualitas.
Salah satu pelaku UMKM Desa Sumberkembar mengungkapkan antusiasmenya terhadap program ini. “Biasanya saya pakai plastik biasa, cepat dan murah, tapi memang kelihatan kurang rapi. Setelah diajari pakai standing pouch, produk jadi lebih bagus tampilannya dan kelihatan seperti jualan di toko besar,” ujar Bu Wiji, pelaku usaha camilan setempat.
Selain itu, mahasiswa KKN juga mulai mengenalkan pentingnya pemasaran digital kepada pelaku UMKM. Dalam sesi pendampingan, terjadi percakapan antara mahasiswa dan Bu Wiji terkait pemanfaatan platform e-commerce.
“Sebelumnya, Ibu Wiji sudah punya akun Shopee?” ujar salah satu mahasiswa.
“Belum, saya belum punya,” jawab Bu Wiji.
“Iya, Bu. Tapi apakah Ibu ada keinginan untuk punya akun Shopee agar produk bisa dijual secara online?” lanjut mahasiswa tersebut.
“Iya, saya ada keinginan untuk punya akun,” ungkap Bu Wiji.
Warga lain yang bekerja bersama Bu Wiji menambahkan bahwa pelatihan ini membuka wawasan baru tentang pentingnya kemasan dalam meningkatkan nilai jual produk serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Program pelatihan standing pouch eco green ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas produk UMKM, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kemasan ramah lingkungan dan keberlanjutan usaha kecil di desa.
“Perubahan besar bisa dimulai dari hal sederhana, termasuk dari kemasan. UMKM yang kuat lahir dari inovasi kecil yang konsisten,” pungkas salah satu anggota tim KKN.
Pasuruan, Jurnalgapi.id / Cempaka Foundation bersama Pemerintah Kabupaten Pasuruan meresmikan Progra...
Sub Kelompok KKN Untag Mojokerto | jurnalpagi.id Tim dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya berha...
Penulis: Shenda Arnadia Larasati, Mahasiswa KKN R10 Desa Mojokembang Universitas 17 Agustus 1945 Sur...
Oleh Beatricx Eliesabeth S, Mahasiswa KKN R10 Desa Mojokembang Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ...
Oleh Ryandra Wahyu Aditya Bahar, Mahasiswa KKN R10 Desa Mojokembang Universitas 17 Agustus 1945 S...
Oleh : Bulan Arrul Nandhyra, Mahasiswa KKN R12 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Mojekerto | jurn...

No comments yet.