TERKINI

KEMERDEKAAN OTSUS PAPUA

Mei 05 2022716 Dilihat

Oleh: Ismail Asso

Merdeka Substansial

Barang siapa sudah melewati tahapan post intelektualisme yakni tahap tercerahkan dalam arti orang yang cara berfikirnya (sudah) mencapai tingkat aukuflarung, enlightenment (tercerahkan), kata intinya disini “sudah”, maka orang seperti itu pemahamannya jauh lebih kedepan dari pada orang pada umumnya.

Orang-orang biasa, masyarakat pada umumnya yang masih awam masih berada di sini. Orang yang sudah tercerahkan sudah diseberang sana, mereka jauh kedepan melampui rata-rata cara pikir orang biasa, yang rata-rata cara berpikirnya lebih pada bungkusan, gambar, symbol. Sebaliknya bagi yang sudah tercerahkan lebih pada inti, isinya (substantif), bukan lagi bungkusannya, gambar, symbol.

Kaum Sophos yang berasal dari kata Yunani yang berarti ahli hikmat, jauh melampaui ketika pada saat sama ketika orang kebanyakan orang awam (umum) masih pada tahap mementingkan bukan inti (isinya) tapi pada bungkusan (formal, jargon, simbol).

Demikian orang kalau sudah tercerahkan secara intelektual pada ditingkat pencerahan (aukuflaarung, enlightenment) maka orang seperti itu biasanya menganut paham merdeka secara substansial dalam arti isinya bukan bungkusannya.

Baginya yang penting (urgen) essensi (isi/intinya) bukan legal formalnya, bukan bungkusan tapi inti dari isi bungkusan. Yang dimaksud MERDEKA adalah pengertian lebih dari substantial bukan lagi MERDEKA symbolik dalam arti batas teritory dan segala atribut symbol ketatanegaraan kaku dan rigid.

Merdeka penting dalam arti symbol berguna sebagai syarat pengajuan dan pengakuan kedaulatan sebuah negara yang belum merdeka dan berdaulat tetapi sebuah Negara yang sudah berdaulat hal tersebut tidak terlalu penting. Namun, yang menjadi fokus utamanya adalah kemakmuran, kesejahteraan, kenyamanan hidup warga negaranya.

Orang yang berada pada tahapan intelektual ditingkat tercerahkan itu biasanya jarang (abai) mementingkan symbol sebagai yang penting. Mereka lebih mementingkan substansi bukan lagi segala bentuk gambar dan simbol formalistik dengan segala atribut dan batas teritory yang umumnya bersifat lambang.

Gus-Dur, mantan Presiden ke 4 Republik Indonesia (RI), adalah salah satu Presiden Indonesia sebagai pelopornya, karenanya baginya lagu Papua yang berjudul: “Hai Tanahku Papua”, Bendera Bintang Kejora adalah lambang cultural bagi rakyat Papua dan itu indentitas yang orang Papua boleh menggunakannya. Karena baginya selama orang Papua menggunakan symbol cultural itu digunakan didalam NKRI selama itu pula orang Papua dilindungi negara melalui aparat TNI-POLRI sebagai perlindung bagi seluruh warga negara Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika (majemuk).

Ketika Era pemerintahan Gus-Dur orang Papua dipersilahkan mengibarkan Bendera Bintang Kejora setengah tiang, menyanyikan Hai Tanahku Papua, orang Indonesia warga Papua secara alamiah (natur) boleh menjadi warga negara dunia didalam NKRI berkulit hitam, berambut keriting, ber-etnis Melanesia (Papua), tidak mungkin dipaksa menjadi orang Jawa, Bugis, Melayu dll. Sehingga Gus-Dur mengembalikan nama Papua dari IRIAN JAYA.

Pertumbuhan dan pemeliharaan lambang identitas masing-masing warga negara Indonesia berbagai suku dan etnis serta agama (pluralitas) dari Aceh sampai Papua itu sendiri sesungguhnya sebagai bagian dari kewajiban asasi sekaligus hak asasi bukan penghargaan oleh siapa untuk apa tapi sudah begitu (alamiah).

Sebab secara alamiah (natural) perbedaan indentitas didalam kesatuan berbangsa dan bernegara dalam “RUMAH BERSAMA” oleh Bung Karno dinamai INDONESIA masing-masing warga turut hadir membawa perbedaan identitas sebagai ciri khusus, perbedaan identitas bukan negative yang harus dihilangkan tetapi sebagai alat (tanda) identifikasi, tanda pengenal, dalam persatuan atribut secara natural (alamiah) kewargaan “Rumah Bersama” Indonesia.

Kulit Hitam, rambut keriting, Aku Papua (Edo Kondolongit) adalah identitas sebagai lambang cultural bagi rakyat Papua yang wajib bukan saja dijaga dan harus dirawat oleh TNI-POLRI tetapi harus dikembangkan dan dipelihara agar tetap begitu secara alami. Makanya Gus-Dur tidak menganggap terlalu penting hal-hal yang bersifat symbol atau apalagi noken dan gelang buatan mama-mama Papua yang biasanya dijual di emperan tokoh sekitar Pasar Amanat Penderitaan Rakyat (AMPERA) Jayapura.

Bagi orang yang sudah pada tahapan cara berfikir ditingkat ini persoalan symbol tidak ditakutkan sama sekali sebagaimana ketakutan kelompok orang dengan anggapan symbol penting seperti sekarang ini. Sehingga masih ada oknum anggota yang seharusnya melindungi dan merawat identitas itu malah sebaliknya membasmi.

Penggunaan nama Irian Jaya menjadi Papua bagi paham substansial adalah biasa sebab nama-hanya semata-mata nama kecuali mengganggu stabilitas kedaulatan NKRI, pengunaan kekerasan sebagai jalan terakhir ditempuh sebagai pertahanan kekuasaan nasional.

Ismail Asso
Intelektual Muslim Papua, Kelahiran Welesi Wamena Kabupaten Jayawijaya Papua.

Share to

Related News

GSNI Surabaya Gelar Acara Pelatihan Kepe...

by Feb 04 2024

Jurnalpagi.id | Surabaya Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) DPC Surabaya Pada Sabtu, (27/10/202...

Seribu Jurus Serang Anies Baswedan Setel...

by Feb 14 2023

Jakarta, jurnalpagi.id – Anies Baswedan menngantongi tiket pemilihan presiden (Pilpres) 2024, ...

Hentikan Kristenisasi Dalam Birokrasi DO...

by Feb 12 2023

Papua – Didalam sistem birokrasi Daerah Propinsi Baru (DOB) Propinsi Papua Pegunungan tidak bo...

Besarnya Parpol karena Orang orang Lapan...

by Jul 20 2022

Penulis : Anugrah PrasetyoSatu Jari Indonesia Kesuksesan “blusukan” kader Partai politik ke temp...

DARI RAKYAT (BUKAN) UNTUK RAKYAT

by Jul 13 2022

Penulis : Anugrah PrasetyoAktifis Sosial Kota Surabaya Perpolitikan di daerah ketika kita menjumpai ...

Pemimpin Tidak Harus Menjadi Pimpinan

by Jul 12 2022

Penulis : Anugrah PrasetyoAktifis Sosial Kota Surabaya Jiwa pemimpin merupakan salah satu aspek pent...

No comments yet.

Sorry, the comment form is disabled for this page/article.
back to top